Museum Sejarah

Galeri Sejarah

Diorama Sejarah Museum Nasional dalam pengalaman immersive

Museum Sejarah Monumen Nasional berada 3 meter di bawah permukaan tanah Tugu Monumen Nasional dengan luas 80x80 meter. Diorama disimpan dalam kaca kedap udara dengan pencahayaan khusus dan menampilkan 51 diorama yang menggambarkan perjalanan sejarah Indonesia, dari zaman prasejarah, kerajaan, kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga Orde Baru.

Pengalaman visual & audio imersif menelusuri sejarah.

*Anda dapat mengganti bahasa, mengaktifkan suara & menonaktifkan pada tombol interaktif di pojok kanan atas

Memuat...

0%

Daftar Diorama

01 Masyarakat Indonesia Purba
02 Bandar Sriwijaya
03 Candi Borobudur
04 Bendungan Waringin Sapta
05 Candi Jawi Perpaduan Sivaisme - Budhisme
06 Sumpah Palapa
07 Armada Perang Majapahit
08 Utusan Cina ke Majapahit
09 Peranan Pesantren dalam Penyatuan Bangsa
10 Pertempuran Pembentukan Jayakarta
11 Armada Dagang Bugis
12 Perang Makasar
13 Perlawanan Patimura
14 Perang Diponegoro
15 Perang Imam Bonjol
16 Perang Banjar
17 Perang Aceh
18 Perlawanan Sisingamangaraja
19 Pertempuran Jagaraga
20 Tanam Paksa
21 Kegiatan Gereja Protestan dalam Penyatuan Bangsa
22 Kartini
23 Kebangkitan Nasional
24 Taman Siswa
25 Muhammadiyah
26 Perhimpunan Indonesia
27 Stovia (Sekolah Dokkter Bumi Putera)
28 Digul
29 Sumpah Pemuda
30 Romusya
31 Pemberontakan Tentara PETA di Blitar
32 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
33 Pengesahan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
34 Hari Lahir ABRI
35 Pertempuran Surabaya
36 Kegiatan Gereja Katolik Roma dalam Proses Penyatuan Bangsa
37 Gerilya Mempertahankan Kemerdekaan
38 Jenderal Sudirman
39 Pengakuan Kedaulatan
40 Kembali ke Negara Kesatuan
41 Indonesia menjadi Anggota PBB
42 Konperensi Asia Afrika
43 Pemilihan Umum Pertama
44 Pembebasan Irian Jaya
45 Hari Kesaktian Pancasila
46 Aksi-Aksi Tri Tuntutan Rakyat
47 Surat Perintah 11 Maret
48 Penentuan Pendapat Rakyat Irian Jaya
49 Konperensi Tingkat Tinggi ke-10 Negara-Negara Non Blok
50 Integrasi Timor Timor
51 Alih Teknologi
Diorama Monas

Masyarakat Indonesia Purba

3000 - 2000 SM

Pada zaman megalithikum sudah hidup dalam masyarakat teratur, peninggalan budaya tersebar di seluruh Indonesia, antara lain ditemukan di Pasemah, Besuki, Gilimanuk, dan Cabenge yang berkembang antara 2000 SM - 500 SM. Hasil budaya megalithikum yang terpenting adalah alat serpih, menhir, dolmen, sarcophagus, kubur batu, punden berundak-undak, dan arca.

Diorama Monas

Bandar Sriwijaya

Abad Ke 7 - 13

Terletak pada jalur pelayaran antaran Indonesia, Cina dan India, berperan penting dalam kegiatan perdagangan sehingga menguntungkan bagi Kerajaan Sriwijaya. Kapal-kapal asing banyak berlabuh dan pendeta-pendeta Budha dari Cina sering singgah dan menetap untuk waktu yang lama mempelajari agama Budha. Bandar Sriwijaya akhirnya berkembang menjadi pusat niaga dan budaya.

Diorama Monas

Candi Borobudur

Tahun 824

Borobudur didirikan oleh raja Samaratungga dari keluarga Sailendra dengan bantuan sumbangan Para penganut agama Budha secara gotong royong. Keseluruhan bangunan berbentuk stupa raksasa dan mencerminkan alam semesta. Dalam pembangunan candi, hampir dua ratus ribu kaki kubik batu dipergunakan. Sejumlah 504 arca Budha dan 1555 stupa besar dan kecil melengkapi monumen Budha yang megah ini.

Diorama Monas

Bendungan Waringin Sapta

Abad Ke 11

Setelah Raja Airlangga berhasil menyatukan wilayah kekuasaannya kemakmuran rakyat ditingkatkan, Kali Brantas di bendung dekat Kelagen untuk irigasi serta menanggulangi banjir. Rakyat setempat ditunjuk untuk memelihara bendungan dan sebagai imbalan daerah tersebut dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Akibatnya pelayaran Kali Brantas bertambah ramai dan pelabuhan Hujung Galuh menjadi pusat perdagangan antar pulau.

Diorama Monas

Candi Jawi Perpaduan Sivaisme - Budhisme

Tahun 1292

Perpaduan Sivaisme dan Budhisme sebagai hasil Sinkretisme dapat dilihat pada candi Jawi yang terletak di gunung Welirang, di sebelah Barat Daya Pandakan. Candi ini dibangun pada masa raja Kartanegara, Raja terakhir Singasari. Puncaknya berbentuk Ratnastupa, pada bagian atas terdapat arca Budha Aksobhya dan di bagian bawah arca Siva Mahadewa.

Diorama Monas

Sumpah Palapa

Tahun 1331

Sesudah Gajah Mada berhasil menyelesaikan Perang Sadeng 1331, maka untuk membela keutuhan Negara Majapahit dia bersumpah tidak akan makan Palapa sebelum Nusantara dapat dipersatukan. Sumpah Palapa adalah pendahulu citacita persatuan Indonesia yang kemudian diperjuangkan oleh para perintis kemerdekaan sejak tahun 1908

Diorama Monas

Armada Perang Majapahit

Abad ke-14

Sepeninggal Gajah Mada, timbul kesulitan dalam pemerintahan Hayam Wuruk. Pemerintah yang baru berusaha untuk mempertahankan keutuhan Nusantara dengan mengambil tindakan yang ditujukan kepada kemakmuran rakyat dan keamanan daerah-daerah. Hal ini dibuktikan dengan memperkuat armada perang untuk menjaga keutuhan Nusantara dan mengatasi usaha pengacauan antara lain oleh armada Cina.

Diorama Monas

Utusan Cina ke Majapahit

1405

Sejak Majapahit mangalami zaman keemasan, hubungan persahabatan dengan negara-negara tetangga berlangsung dengan baik. Pengakuan terhadap kedaulatan Majapahit oleh Cina ditandai dengan kunjungan Cheng Ho pada tahun 1405 yang diterima oleh Wikramawardhana.

Diorama Monas

Peranan Pesantren dalam Penyatuan Bangsa

Abad ke-14

Salah satu, cara menyiarkan Islam di Indonesia adalah melalui pendidikan di pesantren atau pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai atau ulama. Kegiatan pesantren-pesantren beserta kiai-kiai dalam penyebaran agama Islam dan pengembangan pendidikan masyarakat mempunyai peranan penting dalam proses penyatuan bangsa.

Diorama Monas

Pertempuran Pembentukan Jayakarta

22 Juni 1527

Untuk membendung pengaruh Portugis yang sejak awal abad ke-16 telah berkuasa di Malaka, Sultan Trenggono, Demak, mengirim Fatahillah dengan pasukannya dan pada tahun 1527 Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa sebelum Portugis mendirikan benteng di pelabuhan Sunda Kelapa sesuai perjanjian tahun 1522 dengan Raja Pajajaran. Dalam pertempuran tanggal 22 Juni 1527 di pelabuhan Sunda Kelapa. Fatahillah berhasil mengalahkan ekspedisi Fransisco de Sa yang dikirim Portugis untuk mendirikan benteng Nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta, berarti kota kemenangan.

Diorama Monas

Armada Dagang Bugis

Abad Ke - 15

Pelayaran orang-orang Makasar dan Bugis mulai abad ke-15 sudah meliputi seluruh perairan Nusantara. Gambaran tentang luasnya daerah-daerah yang dikunjungi terlihat dengan jelas pada tulisan tentang hukum laut Amanna Gappa dan peta laut Bugis.

Diorama Monas

Perang Makasar

1668

Sultan Hasanuddin membuka pelabuhan Makasar untuk negara-negara yang ingin berhubungan dagang dengan Makasar. Perkembangan Makasar dan sikap Hasanuddin yang menjalankan politik perdagangan bebas dengan negara-negara lain menimbulkan pertentangan dengan Belanda yang menjalankan monopoli perdagangan sehingga akhirnya timbul peperangan. Pada tanggal 8 - 9 Agustus 1668, Sultan Hasanuddin memimpin pertempuran mempertahankan benteng Sumbaopu dari serbuan Belanda.

Diorama Monas

Perlawanan Patimura

1817

Berdasarkan Konvensi London 1814, Belanda berkuasa kembali di Indonesia, serta mengulangi menjalankan monopoli perdagangan dan segala sesuatu yang bersifat eksploitasi dilaksanakan kembali. Rakyat Maluku tidak mau menerima Politik monopoli Belanda dan kemudian mengadakan perlawanan di bawah pimpinan Pattimura. Pada tanggal 15 Mei 1817 Pattimura bersama rakyat menyerbu Benteng Duurstede di Saparua dan berhasil merebutnya.

Diorama Monas

Perang Diponegoro

1825 - 1830

Perang yang dicetuskan pada tahun 1825 oleh Diponegoro merupakan salah satu perlawanan rakyat semesta yang berlangsung secara terus menerus sehingga Belanda kehilangan sebanyak 15.000 tentara. Dalam pertempuran di sekitar Kali Bogowonto, Diponegoro berhasil mengalahkan pasukan kavaleri Belanda. Dengan perangkap berkedok perundingan, akhirnya Diponegoro ditangkap di Magelang pada tanggal 28 Maret 1830.

Diorama Monas

Perang Imam Bonjol

1821 - 1837

Sekembalinya para ulama dari tanah suci, mereka melihat bahwa keadaan kehidupan masyarakat tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Para ulama yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol mengadakan pembaharuan - pembaharuan yang ditentang oleh kaum adat. Belanda untuk memperkuat kedudukannya, kemudian memihak kaum adat. Menyadari kekuasaan Belanda makin luas, akhirnya perlawanan terhadap Belanda dilakukan oleh kaum ulama bersama kaum adat. Tuanku Imam Bonjol menghimpun kekuatannya antara lain dengan membuat parit-parit pertahanan.

Diorama Monas

Perang Banjar

1859 - 1905

Untuk menjaga agar hasil bumi Kalimantan seperti batu bara, minyak, karet dan lain-lain tidak jatuh ke tangan bangsa lain, Belanda berusaha untuk menguasai Banjar melalui campur tangan dalam pemerintahan Kesultanan Banjar. Hal ini menjadi alasan bagi rakyat Banjar untuk mengangkat senjata melawan Belanda di bawah pimpinan Pangeran Antasari. Penyerangan terhadap kapal Belanda Onrust di Lontartur dilakukan oleh Pangeran Suropati, saudara Pangeran Antasari.

Diorama Monas

Perang Aceh

1873 - 1914

Aceh menolak tuntutan Belanda agar menghentikan hubungannya dengan negara-negara lain. Belanda segera mengirim ekspedisi yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Kohler. Serangan pertama Belanda gagal, bahkan panglimanya Kohler, gugur dalam pertempuran di halaman masjid agung Baiturrahman Banda Aceh. Pembakaran masjid agung Baiturrahman semakin menumbuhkan semangat perlawanan rakyat terhadap Belanda.

Diorama Monas

Perlawanan Sisingamangaraja

1877 - 1907

Dengan dalih bahwa zending sering diganggu oleh pasukan Sisingamangaraja, Belanda melakukan ekspansi ke Tapanuli. Bentrokan pertama dengan Belanda terjadi pada tanggal 15 Februari 1878, setelah Sisingamangaraja memberi peringatan kepada pasukan Belanda agar meninggalkan Tapanuli. Perlawanan terhadap Belanda kemudian mendapat bantuan rakyat Aceh dan Minangkabau. Dalam pertempuran di Tanggabatu dekat Balige pada tahun 1884, Sisingamangaraja dapat memukul mundur pasukan Belanda.

Diorama Monas

Pertempuran Jagaraga

1848 - 1849

Pada tahun 1841, Belanda memaksakan penghapusan peraturan Tawan Karang yang diakui sebagai lembaga hukum adat di Bali tetapi ditolak oleh Buleleng dan Karangasem. Walaupun dalam serangan Belanda pada tahun 1840 Buleleng dan Karangasem dapat diduduki, namun semangat juang rakyat tetap berkobar dan mereka menyiapkan pertahanan di Jagaraga. Pertempuran di muka Pura Dalam Jagaraga berakhir dengan gugurnya seisi pura yang lebih dikenal sebagai puputan Jagaraga.

Diorama Monas

Tanam Paksa

1830 - 1870

Perang Diponegoro mengakibatkan krisis keuangan bagi Belanda. Untuk mengatasi krisis tersebut Gubernur Jenderal Van Den Bosch memaksa rakvat di tanah Jawa menanami sebagian besar tanah mereka dengan tanaman yang laku di Eropa seperti nila, kopi, teh, lada, gula dan kayu manis. Rakyat yang tidak memiliki tanah dipaksa bekerja di perkebunan-perkebunan. Bagi rakyat Indonesia tanam paksa merupakan eksploitasi yang luar biasa, mengakibatkan timbulnva kelaparan karena mereka tidak mempunyai kesempatan menggarap sawah ladang mereka.

Diorama Monas

Kegiatan Gereja Protestan dalam Penyatuan Bangsa

1930

Gereja Protestan dengan zendingnya giat mengadakan propaganda terutama di daerah-daerah yang keadaannya masih terbelakang. Pada tahun 1930 berdiri Perserikatan Kaum Christen dan Partai Kaum Masehi Indonesia. Keduanya merupakan bagian gerakan nasional. Selain bergerak dalam bidang agama, juga giat dalam bidang pendidikan dan sosial hingga secara langsung membantu menyatukan bangsa Indonesia yang sedang mengalami proses penyatuan bangsa.

Diorama Monas

Kartini

1879 - 1904

Gerakan mengejar kemajuan pada akhir abad ke-19 terbukti dari kebutuhan akan pendidikan. Kartini tampil sebagai pendekar kaumnya ketika pandangan umum masih dihinggapi konservatisme yang kuat bagi anak perempuan. Buah pikiran Kartini untuk membebaskan kaumnya dari keterbelakangan tercemin dalam surat-surat yang dikirim kepada sahabat-sahabat karibnya di negeri Belanda yang kemudian dihimpun dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Diorama Monas

Kebangkitan Nasional

20 Mei 1908

Politik kolonial Belanda tidak menghendaki rakyat Indonesia menjadi cerdas karena hal itu akan mcmbahayakan kedudukan Belanda. Akhirnya pendidikan modern terpaksa diberikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga terdidik dan untuk meningkatkan masyarakat Indonesia sebagai pasar bagi industri Belanda. Kebangkitan kaum terpelajar Indonesia menimbulkan kesadaran nasional untuk merdeka. Cita-cita dr. Wahidin untuk menghimpun tokoh-tokoh pergerakan nasional diwujudkan oleh dr. Sutomo dan kawan-kawan dengan membentuk Boedi Oetomo.

Diorama Monas

Taman Siswa

3 Juli 1922

Politik pendidikan pada zaman penjajahan tidak dapat dipisahkan dari kepentingan Kolonial. Sebagai reaksi, Ki Hajar Dewantara mendirikan perguruan Taman Siswa di Yogyakarta yang kemudian berkembang dengan pesat sehingga mengkhawatirkan Belanda. Semangat nasionalisme sangat menjiwai kehidupan Taman Siswa. Pada tahun 1935 berlangsung kongres Pendidikan Nasional yang pertama dengan tujuan hendak menggalang persatuan dan mencari perumusan tentang pendidikan yang bersifat nasional.

Diorama Monas

Muhammadiyah

18 November 1912

Keadaan masyarakat Islam pada abad XIX pada permulaan abad XX sangat menyedihkan. Agama Islam telah banyak bercampur dengan berbagai ajaran yang bukan berasal dari Qur'an dan Hadist. Bertolak dari keadaan tersebut Kiai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah dengan tujuan pokok mengadakan pembaharuan kehidupan agama Islam. Kegiatannya meliputi bidang-bidang keagamaan, pendidikan dan kemasyarakatan.

Diorama Monas

Perhimpunan Indonesia

1922

Perjuangan mencapai Indonesia Merdeka di luar negeri dipelopori oleh mahasiswa Indonesia yang belajar di negeri Belanda. Pada bulan Februari 1927 Perhimpunan Indonesia berjuang di forum internasional dengan mengambil bagian dalam Kongres Liga Anti Kolonialisme di Brussel. Selanjutnya propaganda Perhimpunan Indonesia semakin berani dan tajam sehingga pemerintah Belanda mengadakan penangkapan terhadap 4 orang pimpinannya yaitu Moh. Hatta, Abdul Madjid, Ali Sastroamidjojo dan Nasir Datuk Pamuntjak, tetapi oleh pengadilan mereka dinyatakan tidak bersalah.

Diorama Monas

Stovia (Sekolah Dokkter Bumi Putera)

1898 - 1926

Gagasan yang didengungkan dari Gedung: STOVIA, tempat lahir Boedi Oetomo untuk mempertinggi derajat bangsa, mendapatkan dukungan di berbagai kota. Konsolidasi segera diadakan yaitu dengan menyelenggarakan Kongres pada tanggal 4-5 Oktober 1908 di Yogyakarta. Dalam perkembangan selanjutnya Boedi Oetomo tumbuh menjadi perhimpunan nasional yang umum dan besar sehingga apa yang telah dilakukan mahasiswa STOVIA dalam rapat tanggal 9 Mei 1908 dianggap sebagai lahirnya pergerakan nasional Indonesia.

Diorama Monas

Digul

1927

Pergerakan untuk membebaskan Bangsa dari penjajahan menyebar ke seluruh Indonesia. Pada tahun 1926 dan 1927 timbul pemberontakan terhadap Belanda di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera Barat, akan tetapi dapat ditumpas dengan kejam. 13.000 orang ditangkap, diantaranya 1300 orang dibuang ke Tanah Merah, Digul. Dalam perkembangan selanjutnya. Digul menjadi tempat pengasingan bagi tokoh-tokoh pergerakan nasional antara: lain Moh. Hatta dan Sutan Syahrir.

Diorama Monas

Sumpah Pemuda

28 Oktober 1928

Dalam lingkungan pergerakan nasional Indonesia, para pemuda telah melahirkan berbagai ragam organisasi pemuda yang pada umumnya masih bersifat kedaerahan dan satu dengan yang lain tidak mempunyai hubungan. Iklim persatuan Indonesia mempengaruhi dan mendorong untuk membina satu pergerakan pemuda yang berjiwa nasional kesatuan. Usaha ke arah itu dilakukan dalam serangkaian kongres pemuda. Pada Kongres Pemuda yang kedua dicetuskan Sumpah Pemuda dan dikumandangkan untuk pertama kali lagu Indonesia Raya.

Diorama Monas

Romusya

1942 - 1945

Pada tanggal 8 Maret 1942 Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, Subang. Untuk memenangkan perang, Jepang kemudian secara paksa mengerahkan seluruh tenaga dan kekayaan bumi Indonesia. Rakyat dikerahkan untuk melaksanakan kerja paksa pada objek vital dan sarana militer. Mereka mengalami siksaan dan tidak mendapat makanan yang cukup dan akibatnya berpuluh-puluh ribu romusya menemui ajal di tempat-tempat mereka bekerja.

Diorama Monas

Pemberontakan Tentara PETA di Blitar

14 Februari 1945

Pada bulan Oktober 1943 Pemerintah Pendudukan Jepang membentuk tentara Pembela Tanah Air untuk membela Tanah Jawa yang mendapat sambutan dari para pemuda. Perasaan benci terhadap Jepang semakin mendalam ketika mereka bertugas membangun kubu-kubu pertahanan bersama para romusya. Menyaksikan penderitaan rakyat serta aspirasi untuk merdeka, Supriyadi memimpin batalyon PETA di Blitar mengadakan pemberontakan dengan menyerbu markas militer Jepang.

Diorama Monas

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

17 Agustus 1945

Mengetahui bahwa Jepang kalah perang, rakyat Indonesia baik para pemuda maupun para pemimpin pergerakan kebangsaan berpacu dengan waktu untuk mewujudkan cita-cita perjuangan yakni mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia selekas mungkin. Dalam pertemuan rahasia pada malam hari tanggal 16 Agustus 1945 di Jalan Imam Bonjol 1 Jakarta, naskah proklamasi dirumuskan, ditandatangani oleh Soekarno dan Moh.Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00. Soekarno didampingi Moh. Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Diorama Monas

Pengesahan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945

18 Agustus 1945

Setelah Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Para pemimpin Bangsa dengan segera menyusun tatanan kehidupan negara. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengadakan rapat di Pejambon, Jakarta. Rapat menghasilkan keputusan yang sangat penting mengenai ketatanegaraan Republik Indonesia, mensahkan Pancasila sebagai Landasan Falsafah Negara dan Undang-Undang Dasar 1945. Rapat juga memilih Soekarno dan Moh. Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Diorama Monas

Hari Lahir ABRI

5 Oktober 1945

Pada tanggal 22 Agustus 1945 Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia menetapkan pembentukan Barisan Keamanan Rakyat untuk memelihara keamanan dan ketertiban umum di daerahnya masing-masing. Dalam perebutan kekuasaan terhadap Jepang dan perlawanan terhadap Sekutu serta untuk memperkuat perasaan keamanan umum disadari perlu suatu Angkatan Bersenjata yang tangguh maka pada tanggal 5 Oktober 1945 pemerintah mendekritkan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat.

Diorama Monas

Pertempuran Surabaya

10 Nopember 1945

Pasukan Sekutu termasuk tentara dan opsir-opsir NICA mendarat di Surabaya pada bulan Oktober 1945 sehingga menimbulkan beberapa insiden yang kemudian meningkat menjadi pertempuran. Setelah Brigjen Mallaby terbunuh, ultimatum dikeluarkan kepada rakyat Surabaya untuk menyerahkan senjata mereka. Rakyat tidak menghiraukannya dan pada tanggal 10 November 1945 pecah pertempuran hebat ketika Sekutu mengerahkan kekuatan darat, laut dan udara untuk membinasakan para pejuang Surabaya yang bertempur dengan semangat pantang mundur. Dan oleh rakyat Indonesia peristiwa ini diabadikan sebagai Hari Pahlawan.

Diorama Monas

Kegiatan Gereja Katolik Roma dalam Proses Penyatuan Bangsa

1936

Gereja Katolik Roma melalui misinya mengumpulkan pemuda-pemuda dari berbagai suku dan daerah sehingga terbentuk suatu masyarakat Katolik Roma yang didalamnya bersemi semangat nasionalisme. Kegiatannya dalam bidang pendidikan dan sosial secara langsung membantu bangsa Indonesia yang sedang mengalami proses penyatuan. Terhadap cita-cita Indonesia Merdeka, Perhimpunan Politik Katolik Indonesia ikut menandatangani petisi Soetardjo 1936 yang menuntut pemerintah kolonial untuk memerdekakan bangsa Indonesia.

Diorama Monas

Gerilya Mempertahankan Kemerdekaan

1945-1949

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Dengan menggunakan peralatan perang sederhana, bergerilya bersama rakyat menghadapi musuh yang hendak menegakkan kembali kekuasaan Belanda untuk menegakkan kekuasaan Republik Indonesia di daerah-daerah yang dikuasai musuh disusun kantong-kantong gerilya yang dapat melaksanakan pertahanan secara berdiri sendiri dengan integrasi segenap kekuatan politik, ekonomi, sosial budaya dan militer.

Diorama Monas

Jenderal Sudirman

1948

Yogyakarta Ibukota RI, direbut Belanda dalam aksi militer kedua tanggal 19 Desember 1948 dan pimpinan pemerintahan ditangkap. Mereka dipindahkan ke Bukit Tinggi dengan membentuk Pemerintahan Darurat RI. Jenderal Sudirman yang waktu itu dalam keadaan sakit payah memimpin gerilya untuk melanjutkan perjuangan membela kemerdekaan. Jenderal Sudirman baru kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949 setelah pemerintah RI dikembalikan ke Yogyakata sesuai dengan persetujuan Antara Indonesia dan Belanda.

Diorama Monas

Pengakuan Kedaulatan

27 Desember 1949

Perjuangan gigih rakyat Indonesia melawan agresi militer Belanda serta tekanan Dewan Keamanan PBB memaksa Belanda kembali ke meja perundingan. Di Jakarta pada tanggal 7 Juli 1949 tercapai persetujuan untuk mempersiapkan suatu konferensi Meja Bundar yang akan membicarakan pengakuan kedaulatan Indonesia. Dalam KMB di Den Haag, Pemerintah Belanda mengakui kedaulatan di Indonesia pada Republik Indonesia Serikat. Upacara pengakuan kedaulatan di Jakarta dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX ditandai dengan pengibaran Sang Merah Putih.

Diorama Monas

Kembali ke Negara Kesatuan

1950

Rakyat di setiap daerah menuntut pembubaran Negara Serikat. Karena tuntutan rakyat secara spontan, beberapa Negara Bagian menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia yang merupakan negara bagian dari RIS. Dalam perundingan antara RIS dengan Negara bagian RI tercapai kesepakatan tentang penghapusan bentuk federal dan berdiri kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kemudian diumumkan oleh Mr. Supomo pada tanggal 17 Agustus 1950.

Diorama Monas

Indonesia menjadi Anggota PBB

28 September 1950

Dalam kehidupan bersama dan bermasyarakat di dunia, kerjasama antar bangsa dalam suatu wadah adalah sangat berguna untuk memelihara perdamaian dunia. PBB dan organisasi bawahannya bermanfaat untuk mengatasi sengketa antara negara-negara yang telah merdeka dan mempercepat proses dekolonisasi. Menyadari hal itu dan mengingat bantuan dalam menyelesaikan sengketa Indonesia-Belanda, Indonesia terdorong menjadi anggota PBB.

Diorama Monas

Konperensi Asia Afrika

18-24 April, 1955

Perang dingin antara blok Barat dan Blok Timur yang timbul setelah berakhir Perang Dunia kedua, sewaktu-waktu dapat meletus menjadi perang nuklir. Menyadari akan bahaya ini, 30 negara Asia-Afrika mengadakan konperensi yang menghasilkan resolusi Dasasila Bandung. Asia-Afrika menjadi suatu kekuatan yang dapat menjadi penengah antara Blok Barat dan Blok Timur.

Diorama Monas

Pemilihan Umum Pertama

1955

Pemerintah menyadari bahwa pemilhan umum harus dilaksanakan sebagai salah satu sarana demokrasi. Pada tahun-tahun pertama berdirinya, Republik Indonesia harus menghadapi musuh dari luar sehingga pemilihan umum sulit dilaksanakan. Pemilihan umum dilaksanakan di seluruh Indonesia diikuti oleh 48 partai politik untuk memilih wakil-wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat tanggal 29 September 1955 dan untuk memilih wakil-wakil rakyat di Dewan Konstituante pada tanggal 15 Desember 1955.

Diorama Monas

Pembebasan Irian Jaya

1 Mei 1963

Upaya mengembalikan Irian Jaya ke pangkuan Republik Indonesia melalui perundingan selalu gagal. Ketika Belanda bermaksud membentuk pemerintah boneka di Irian Jaya, Presiden Soekarno mengumumkan Tri Komando Rakyat pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta. Setelah Komando Mandala melancarkan operasi militer, Belanda terpaksa menyerahkan Irian Jaya melalui PBB. Pada tanggal 1 Mei 1963 berlangsung upacara penyerahan Irian Jaya kepada Indonesia yang diwakili oleh Sudjarwo Tjondronegoro di Jayapura.

Diorama Monas

Hari Kesaktian Pancasila

1 Oktober 1965

Pancasila merupakan kepribadian dan pandangan hidup Bangsa yang telah berkali-kali mengalami percobaan, diuji kebenaran, keampuhan dan kesaktiannya. Pada tanggal 1 Oktober 1965, G 30 S/PKI melancarkan pemberontakan dan pengkhianatan dengan membunuh Pimpinan TNI-AD, kemudian merebut kekuasaan negara: Keberhasilan ABRI dan rakyat yang berjiwa Pancasila di bawah pimpinan Mayor Jenderal Soeharto menggagalkan dan menumpas kudeta G 30 S/PKI merupakan kemenangan Pancasila. Pada tanggal 4 Oktober 1965, Mayor Jenderal Soeharto memimpin pengangkatan jenazah para pahlawan dari sumur di Lobang Buaya.

Diorama Monas

Aksi-Aksi Tri Tuntutan Rakyat

1966

Sejak kudeta berdarah G 30 S/PKI berhasil digagalkan dan ditumpas dalam waktu singkat, Pemerintah Orde Lama menjadi goyah karena menghadapi krisis politik dan ekonomi yang semakin parah. Mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia yang disokong oleh segenap kekuatan Pancasila di dalam ABRI, partai-partai politik dan organisasi-organisasi massa mengadakan demonstrasi tanggal 11 Januari 1966-11 Maret 966 dengan mengajukan Tri Tuntutan Rakyat

Diorama Monas

Surat Perintah 11 Maret

1966

Krisis yang menggoncangkan sendi-sendi negara sesudah kudeta G 30 S/PKI digagalkan menyebabkan Pemerintah kehilangan kepercayaan rakyat. Presiden Soekarno mengeluarkan surat perintah kepada Letjen Soeharto untuk memulihkan kewibawaan Pemerintah dan keamanan nasional. Letjen. Soeharto dengan cepat melaksanakan Surat Perintah 11 Maret 1966 dengan memenuhi dua di antara Tri Tuntutan Rakyat, yakni membubarkan Partai Komunis Indonesia dan membersihkan kabinet dari Menteri-Menteri yang ada indikasi terlibat G 30 S/PKI.

Diorama Monas

Penentuan Pendapat Rakyat Irian Jaya

1969

Untuk mclaksanakan Persetujuan New York 1962 tentang penyerahan Irian Jaya kepada Indonesia diadakan PEPERA di bawah pengawasan PBB yang dilakukan dengan sistim perwakilan setiap kelompok melalui pemilihan secara bertingkat. Keputusan Dewan Musyawarah PEPERA dengan suara bulat memilih Irian Jaya tetap bagian RI yang kemudian disahkan oleh PBB pada tanggal 19 Nopember 1969 dengan 84 suara setuju, 6 menolak dan 30 suara abstain.

Diorama Monas

Konperensi Tingkat Tinggi ke-10 Negara-Negara Non Blok

1992

KTT ke-10 Para Kepala Negara atau Pemerintahan Negara-Negara Non Blok diselenggarakan di Jakarta, 1-6 September 1992. Presiden Soeharto dalam pidato pembukaan konperensi tersebut menegaskan perlunya suatu tata internasional baru berdasarkan perdamaian abadi, keadilan sosial, kesejahteraan rakyat dan pembangunan berkelanjutan. Wakil-wakil dari 100 negara yang merupakan anggota Gerakan Non Blok ikut serta di dalam konperensi tersebut: 8 negara organisasi internasional dan gerakan pembebasan nasional menghadiri konperensi sebagai peninjau, delegasi tamu dari 22 negara organisasi internasional ikut hadir di dalam konperensi tersebut.

Diorama Monas

Integrasi Timor Timor

1976

Keputusan Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Timor Timur, 31 Mei 1976, di Dili, yang pada hakekatnya merupakan perwujudan kehendak rakyat sebagai mana tertuang dalam proklamasi integrasi Timor Timur, 30 November 1975, di Balibo, mendesak pemerintah RI agar dalam waktu sesingkat-singkatnya menerima dan mengesankan integrasi rakyat dan wilayah Timor Timur ke dalam negara kesatuan RI.

Diorama Monas

Alih Teknologi

1995

Keberhasilan uji terbang perdana N-250 produksi Industri Pesawat terbang Nusantara di Bandung, 10 Agustus 1995, merupakan prestasi putera-puteri bangsa Indonesia yang membanggakan dalam upaya mengembangkan dan menerapkan teknologi tinggi di bidang kedirgantaraan. Berkaitan dengan itu, tanggal 10 Agustus ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.